UCAPAN SELAMAT DATANG

Sabtu, 31 Oktober 2009

KOMUIKASI MASA

Tugas Komunikasi Masa

1. Jelaskan secara detail apa saja yang anda ketahui tentang surat kabar Media Indonesia dan SINDO baik menyangkut organisasi perusahaan dan keredaksian (bisa Anda lihat di “box”), maupun isi serta gaya bahasa dari kedua surat kabar tersebut?

Jawab:

Media Indonesia pertama kali diterbitkan pada tanggal 19 January 1970. Sebagai surat kabar umum pada masa itu, Media Indonesia baru bisa terbit 4 halaman dengan tiras yang amat terbatas. Berkantor di Jl. MT. Haryono, Jakarta, disitulah sejarah panjang Media Indonesia berawal. Lembaga yang menerbitkan Media Indonesia adalah Yayasan Warta Indonesia. Tahun 1976, surat kabar ini kemudian berkembang menjadi 8 halaman. Sementara itu perkembangan regulasi di bidang pers dan penerbitan terjadi. Salah satunya adalah perubahan SIT (Surat Izin Terbit) menjadi SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers). Karena perubahan ini penerbitan dihadapkan pada realitas bahwa pers tidak semata menanggung beban idealnya tapi juga harus tumbuh sebagai badan usaha.

Dengan kesadaran untuk terus maju, pada tahun 1988 Teuku Yousli Syah selaku pendiri Media Indonesia bergandeng tangan dengan Surya Paloh, mantan pimpinan surat kabar Prioritas. Dengan kerjasama ini, dua kekuatan bersatu : kekuatan pengalaman bergandeng dengan kekuatan modal dan semangat. Maka pada tahun tersebut lahirlah Media Indonesia dengan manajemen baru dibawah PT. Citra Media Nusa Purnama. Surya Paloh sebagai Direktur Utama sedangkan Teuku Yousli Syah sebagai Pemimpin Umum, dan Pemimpin Perusahaan dipegang oleh Lestary Luhur. Sementara itu, markas usaha dan redaksi dipindahkan ke Jl. Gondandia Lama No. 46 Jakarta.Awal tahun 1995, bertepatan dengan usianya ke 25 Media Indonesia menempati kantor barunya di Komplek Delta Kedoya, Jl. Pilar Mas Raya Kav.A-D, Kedoya Selatan, Jakarta Barat. Di gedung baru ini semua kegiatan di bawah satu atap, Redaksi, Usaha, Percetakan, Pusat Dokumentasi – Perpustakaan, Iklan, Sirkulasi dan Distribusi serta fasilitas penunjang karyawan. Sejarah panjang serta motto “ Pembawa Suara Rakyat “ yang dimiliki oleh Media Indonesia bukan menjadi motto kosong dan sia-sia, tetapi menjadi spirit pegangan sampai kapan pun.

Sejak Media Indonesia ditangani oleh tim manajemen baru di bawah payung PT Citra Media Nusa Purnama, banyak pertanyaan tentang apa yang menjadi visi harian ini dalam industri pers nasional. Terjun pertama kali dalam industri pers tahun 1986 dengan menerbitkan harian Prioritas. Namun Prioritas memang kurang bernasib baik, karena belum cukup lama menjadi koran alternatif bangsa, SIUPP-nya dibatalkan Departemen Penerangan. Antara Prioritas dengan Media Indonesia memang ada “benang merah yaitu dalam karakter kebangsaannya. Surya Paloh sebagai penerbit Harian Umum Media Indonesia, tetap gigih berjuang mempertahankan kebebasan pers. Wujud kegigihan ini ditunjukkan dengan mengajukan kasus penutupan Harian Prioritas ke pengadilan, bahkan menuntut Menteri Penerangan untuk mencabut Peraturan Menteri No.01/84 yang dirasakan membelenggu kebebasan pers di tanah air.

Tahun 1997, Djafar H. Assegaff yang baru menyelesaikan tugasnya sebagai Duta Besar di Vietnam dan sebagai wartawan yang pernah memimpin beberapa harian dan majalah, serta menjabat sebagai Wakil Pemimpin Umum LKBN Antara, oleh Surya Paloh dipercayai untuk memimpin harian Media Indonesia sebagai Pemimpin Redaksi. Saat ini Djafar H. Assegaff dipercaya sebagai Corporate Advisor. Para pimpinan Media Indonesia saat ini adalah : Direktur Utama dijabat oleh Rahni Lowhur Schad, Direktur Pemberitaan dijabat oleh Saur Hutabarat dan dibidang usaha dipimpin oleh Alexander Stefanus selaku Direktur Pengembangan Bisnis.

Koran Seputar Indonesia (Koran SINDO) terbit perdana, pada 30 Juni 2005, dilahirkan oleh PT Media Nusantara Informasi (MNI), anak perusahaan PT Media Nusantara Citra Tbk (MNC). Koran SINDO terbit selama 7 hari selama 1 minggu, dengan format ukuran panjang 7 kolom dan tinggi 54 cm. Edisi Reguler terbit 40 halaman dengan 3 bagian sedangkan Minggu terbit 40 halaman edisi akhir minggu. Target pembaca adalah masyarakat kelas menengah ke atas, pendidikan Sarjana, segmentasi usia dari 18 tahun sampai dengan 40 tahun. Dengan diferensiasi pembaca laki-laki sebanyak 60% dan pembaca wanita sebanyak 40%. Target distribusi Koran Seputar Indonesia adalah kota-kota besar di seluruh Indonesia dengan jumlah oplah sebesar 336.000 pembaca.

Di dalam tatanan negara maju, pers telah menjadi bagian yang sangat penting, karena pers memiliki kekuatan dan peranan strategis dalam mewarnai kehidupan ketatanegaraan. Pers berperan sebagai penyeimbang dan kontrol terhadap jalannya pemerintahan. Kekuatan inilah yang mengantarkan pers pada urutan keempat setelah eksekutif, legislatif dan yudikatif. Oleh karenanya, agar kekuatan dan peran pers yang sangat besar itu tidak disalahartikan dan disalahtafsirkan, pers dituntut untuk menggunakan fungsinya dengan tepat, sesuai dengan standar jurnalisme yang benar. Pers juga harus memiliki peran penyeimbang agar tidak menjurus kearah trial by press.

Inilah amanat yang akan dan harus diemban Koran Seputar Indonesia. Sebagai surat kabar baru yang lahir di tengah ketatnya persaingan penerbitan persuratkabaran di tanah air. Koran Seputar Indonesia terbit perdana, pada 30 Juni 2005. Dilahirkan oleh PT Media Nusantara Informasi (MNI), sub-sidiary dari PT. Media Nusantara Citra (MNC) yang menaungi RCTI, TPI, Global TV dan Trijaya Network. PT. MNC sudah sangat berpenga- laman dalam mengelola media serta terbilang mapan dan berpengaruh, baik di kalangan masyarakat maupun pengambil keputusan. Sebagai surat kabar baru, Koran Seputar Indonesia ditujukan untuk memudahkan sekaligus memenuhi kebutuhan pembaca dalam satu keluarga. Pada saat sang Bapak memilih news, sang Ibu bisa leluasa membaca lifestyle, sedangkan si Anak bebas membaca sport. Atau sang Bapak bisa membawa news ke kantor dengan meninggalkan lifestyle untuk dibaca Ibu di rumah, sementara si Anak memasukkan sport ke dalam tas untuk dibaca dalam perjalanan. Pendeknya, mereka bisa bertukar section tanpa harus mengganggu keasyikan masing-masing. Koran Seputar Indonesia hadir setiap pagi dengan sajian berita-berita yang akurat, mendalam, penuh gaya dan warna. Koran Seputar Indonesia juga akan menyapa pembaca dengan sentuhan jurnalisme khas untuk selalu memberikan lebih dari sekadar berita. Apalagi ditunjang dengan kreatifitas visual yang progresif dan tidak konservatif, Koran Seputar Indonesia yakin akan menjadi media yang unik. Sajian berita yang bersahabat, karena pemanfaatan bahasa dan image yang ramah (tidak berdarah-darah), aktual dan informatif, karena berita terkini disajikan dengan ringkas dan jelas dengan topik-topik yang hangat. Koran yang menghibur karena didukung oleh desain yang menarik dan tidak membuat kening berkerut. Mampu mengakomodasi Feature Lifestyle dan Infotainment sekuat berita. Sajian berita yang bersifat Non Partisan atau tidak memihak dan dapat dipercaya Koran yang bersifat Young and Friendly Newspaper, tercermin dari penggunaan bahasa yang renyah dan sarat dengan unsur partisipasi publik, dan mampu menyajikan gaya hidup yang meliputi in depth news, lifestyle, sport, dan entertainment. Terbit selama 7 hari selama 1 minggu, dengan format ukuran panjang 7 kolom dan tinggi 54 cm. Edisi Reguler terbit 44 halaman dengan 3 bagian/ section.

Target pembaca adalah masyarakat kelas menengah ke atas, pendidikan Sarjana, segmentasi usia 18 tahun ke atas. Dengan diferensiasi pembaca laki-laki sebanyak 52% dan pembaca wanita sebanyak 48%. Target distribusi Koran Seputar Indonesia adalah kota-kota besar di seluruh Indonesia dengan jumlah pembaca sebesar 1 juta orang. Karakteristik pembaca memiliki kebiasaan membaca lebih dari satu surat kabar, karena tidak ingin tertinggal informasi penting dan informasi hiburan dalam waktu yang bersamaan. Termasuk kelompok masyarakat yang haus informasi dan inovatif sehingga mudah menerima hal baru.

Slogan Koran SINDO adalah “Satu Koran Segala Berita”.

2. Pada salah satu edisinya, MEDIA INDONESIA memuat laporan mendalam tentang kunjungan/safari politik suya palloh ke berbagai daerah Indonesia dalam rangka menggalang kekuatan untuk meraih posisi ketua umum Golkar pada Munas Golkar. Sementara pada hari yang sama SINDO memuat tentang bantahan dari PRO (Manajer Humas) TPI tentang rumor yang mengatakan bahwa stasiun televise swasta yang berlokasi di kawasan TMII itu berada di ambang bangkrut dan mismanajemen. jelaskan mengapa kedua surat kabar tersebut menonjolkan berita tertentu, dan menyembunyikan berita yang lain dengan perspektif Teori Agenda Setting?

Jawaban:

Latar belakang :

Jakarta (SuaraMedia News) - Sikap percaya diri yang ditunjukkan kandidat calon Ketua Umum Partai Golongan Karya Surya Paloh dengan mengklaim dukungan dari sejumlah Dewan Pimpinan Daerah tingkat I dan II kembali menuai kontroversi.Kali ini, Forum DPD Tingkat II se-Indonesia menyatakan bantahan telah memberikan dukungan kepada pemilik Media Grup itu.Ketua Forum DPD II se-Indonesia, Muntasir Hamid menyesalkan aksi klaim yang sering dipertontonkan Paloh dalam iklan dan saat bersafari politik. Hamid menuturkan sikap resmi DPD II akan ditunjukkan saat Musyawarah Nasional Partai Golkar 5-7 Oktober mendatang di Pekanbaru, Riau."Seolah-olah kita sudah mendukung kandidat tesebut. Buat kami hal itu adalah kebohongan publik dan direkayasa," ujar Muntasir bersama 8 perwakilan DPD II dalam jumpa pers di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (29/9/2009).Dia mendesak Paloh segera mengklarifikasi dan meminta maatf atas aksi klaimnya tersebut. Sebagai politisi senior, Paloh diminta memberikan pendidikan politik yang baik di masyarakat.Sementara itu, Forum DPD II secara bulat mendukung penuh Aburizal Bakrie sebagai calon Ketua Umum partai berlambang pohon beringin itu. Ical, sapaan Aburizal, dianggap mampu menjadi pemersatu Partai Golkar. "Kami mendukung penuh pencalonan Aburizal Bakrie," kata dia.Sebelumnya, Salah satu kandidat yang disebut-sebut akan maju dalam bursa pemilihan ketua Umum Golkar Yuddy Chrisnandi menilai klaim dukungan yang selama ini dilontarkan oleh beberapa kandidat calon ketua umum maupun tim suksesnya dinilai tidak masuk akal dan sulit dimengerti.
Ia mencontohkan dukungan DPD tingkat 1 maupun II diklaim calon tertentu hingga mencapai lebih dari 50% atau 300-400 suara dinilainya sulit dinalar.Seperti diketahui klaim-klaim tersebut kerap dilontarkan Surya Paloh saat melakukan kunjungan-kunjungan ke daerah. "Besok yang akan memilih itu 531 suara. Yaitu 487 dari tingkat II dan 33 dari tingkat I. Sementara sisanya untuk ormas maupun DPP. Maka sulit dinalar kalau saat ini ada yang mengklaim didukung 300-400 suara atau lebih dari 50%. Karena nanti hasilnya jadi inflasi/kelebihan suaranya kalau dijumlah total," kata Yudi usai melakukan pertemuan dengan DPD Golkar DIY.Yudi menambahkan dirinya sejauh ini juga tidak pernah mengklaim didukung oleh DPD Golkar manapun meski ia juga telah melakukan komunikasi politik di beberapa daerah seperti DIY, Sulawesi, Kalimantan hingga Jawa Timur. Dalam kesempatan tadi Yudi juga menolak secara tegas wacana pemilihan ketua umum Golkar secara aklamasi karena tidak demokratis. Sehingga diharapkan semua kandidat ketua umum bisa memiliki kesempatan yang sama dalam pemilihan mendatang."Saya menolak aklamasi karena tidak demokratis dan semua kandidat bisa punya kesempatan yang sama. Jangan nantinya pilih kucing dalam karung," imbuhnya.Kepada wartawan Yuddy juga berharap agar semua kandidat nantinya bisa menyampaikan visi dan misinya.Diprediksi dalam pemilihan ketua umum Golkar mendatang hanya akan diikuti sekira 3-4 orang kandidat saja. Kader Golkar yang menyatakan diri akan maju dalam pemilihan adalah Yuddy Chrisnandi, Aburizal Bakrie, Surya Paloh, Tommy Soeharto.Sementara itu, iklan calon Ketua Umum Partai Golkar, Surya Paloh, di sebuah koran nasional membuahkan keluhan dari sejumlah Dewan Pimpinan Daerah tingkat II Golkar. Mereka mengeluh, karena merasa belum memberikan dukungan secara resmi kepada Surya Paloh.Fakta itu diungkap Ketua Forum Komunikasi DPD Partai Golkar Kota dan Kabupaten seluruh Indonesia, Muntasir Hamid, dalam jumpa pers di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Selasa 29 September 2009.

"Pencantuman dukungan secara terbuka tersebut mengandung kebohongan publik," kata Muntasir. "Banyak teman-teman DPD yang langsung menelepon saya, ada sekitar 80 DPD," katanya.Keluhan yang muncul misalnya, mereka merasa tak pernah dihubungi atau diajak bicara oleh Surya Paloh. "Ada yang dari Aceh, ada yang dari Sumatera Utara, Papua dan lain-lain. Mereka menangis, ada apa ini," ujar Muntasir. "Kenapa ada klaim-klaim seperti ini?"Menurut Muntasir, seharusnya Partai Golkar sebagai partai politik besar, jangan dihancurkan dengan iklan-iklan seperti ini. "Tapi saya menyarankan pada teman-teman di daerah, jangan membawa kasus ini ke jalur hukum. Kalau perlu, meminta maaf saja kepada teman DPD," katanya. "Bagaimanapun Pak Surya Paloh adalah teman kita. Beliau orang Golkar juga," ujarnya.Dalam iklan di harian Seputar Indonesia, Surya Paloh mengklaim meraih dukungan 300-an DPD I dan II Partai Golkar se-Indonesia. Paloh mengklaim, 90 persen dukungan itu diputuskan dalam rapat pleno masing-masing DPD.Untuk diketahui, setiap DPD I atau II Partai Golkar memiliki satu suara dalam pemilihan Ketua Umum Golkar yang diselenggarakan 4-7 Oktober 2009 di Pekanbaru, Riau. Pemilik suara lainnya adalah DPP, organisasi pendiri Golkar dan organisasi yang didirikan Golkar sehingga total terdapat 500an suara

KORAN SEPUTAR INDONESIA

Surabaya (ANTARA News) - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia menilai putusan pailit yang dijatuhkan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat terhadap PT Cipta TPI (TPI) pada 14 Oktober lalu mengancam 1.083 pekerja.Dalam rilis yang diterima ANTARA Biro Jatim, Minggu, AJI Indonesia meminta manajemen TPI tidak menelantarkan pekerja ketika pailit benar-benar terjadi dengan memenuhi seluruh hak-hak pekerja TPI.Menurut AJI, putusan pailit itu kini membuat resah 1.083 pekerja stasiun teve milik grup Media Nusantara Citra (MNC) itu.Putusan itu dinilai AJI Indonesia akan dapat berimbas buruk atas diabaikannya hak-hak pekerja hingga pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal. Apalagi, sejumlah kasus pailit memang kerap membuat pengusaha lebih memilih untuk mengabaikan hak-hak pekerja atau pekerja hanya masuk dalam "hitungan" terakhir, karena pengusaha cenderung membagikan aset kepada kreditor dan pemegang saham. AJI mencatat sengkarut pailit TPI bermula dari gugatan Crown Capital Global Limited yang mengklaim telah memegang obligasi TPI senilai 53 juta dolar AS. Obligasi itu diterbitkan pada 24 Desember 1996 dan jatuh tempo pada 24 Desember 2006, tetapi hingga tanggal jatuh tempo, TPI tak kunjung melunasi utang itu sehingga Crown pun mengajukan gugatan pailit.Meski dalam pada neraca keuangan TPI pada 2007 dan 2008 utang obligasi itu tak tercantum lagi, namun majelis hakim berpendapat sepanjang persidangan tidak ada pihak yang membuktikan pelunasan tagihan pada 2007 dan 2008. Oleh karena itu, majelis hakim menilai permohonan pailit Crown Capital memenuhi syarat pembuktian sederhana sebagaimana ditentukan Pasal 8 ayat (4) UU Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

Kini, TPI yang memiliki market share 10 persen dari 40 juta pemirsa di Tanah Air dengan 75 persen sahamnya dimiliki PT MNC melalui PT Berkah Karya Bersama.MNC adalah anak usaha PT Global Mediacom Tbk yang dulu bernama PT Bimantara Citra dan dikendalikan Bambang Hary Iswanto Tanoesoedibjo (Hary Tanoe).Sebelumnya, pemilik TPI adalah Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut) dan manajemen TPI saat ini menduga obligasi hanya akal-akalan dari Tutut untuk menutupi dugaan penggelapan uang TPI. Terlepas dari pertarungan para kapitalis media tersebut, AJI Indonesia memandang pemenuhan hak-hak pekerja media harus tetap diutamakan. Oleh karena itu, AJI mendukung jalan yang ditempuh Serikat Pekerja TPI untuk mengkonsolidasikan diri dalam mengantisipasi pelanggaran hak-hak pekerja jika TPI benar-benar pailit. Berkaca dari kasus TPI dan sejumlah kasus lain, AJI Indonesia menyerukan kepada seluruh pekerja media di Indonesia untuk bersatu membangun kekuatan dan solidaritas dalam wadah serikat pekerja media, kendati pemilik media selalu berupaya keras menghadang. Dalam catatan AJI Indonesia, pelanggaran terhadap hak-hak pekerja media antara lain menghalangi pekerja untuk bergabung di dalam serikat, intimidasi, memutasi pengurus atau anggota serikat, menjatuhkan PHK, membentuk serikat pekerja "boneka", menolak diajak berunding PKB (Perjanjian Kerja Bersama), dan membuat peraturan perusahaan sepihak.


Ditinjau dari teori Agenda setting, terdapat perbedaan yang cukup jelas antara MEDIA INDONESIA dan SINDO, meliputi :

Teori Agenda Setting. Ide dasar pendekatan Agenda Setting seperti yang sering dikemukakan Bernard Cohen (1963) adalah bahwa “pers lebih daripada sekadar pemberi informasi dan opini. Pers mungkin saja kurang berhasil mendorong orang untuk memikirkan sesuatu, tetapi pers sangat berhasil mendorong pembacanya untuk menentukan apa yang perlu dipikirkan”. Istilah Agenda Setting pertama kali digunakan dalam studi Maxwell E. McCombs dan Donald L. Shaw yang diterbitkan pada tahun 1972 untuk keperluan penelitian di Chapel Hill, North Carolina, USA tentang pemilihan umum. Agenda Setting memang bukan satu-satunya peran media massa. Masih ada beberapa peran lainnya, seperti memberi informasi, berhubungan dengan orang dan kelompok lain serta hiburan. Dari pengertian diatas jika dikaitkan dengan keputusan koran

MEDIA INDONESIA. Menurut pendapat saya, surat kabar Media Indonesia memuat laporan untuk melaporkan kunjungan Surya Palloh ke berberbagai daerah di Indonesia dalam rangka menggalang kekuatan untuk meraih posisi Ketua Umum Golkar secara mendalam adalah semata-mata untuk memberikan keyakinan terhadap masyarakat terhadap isu yang sedang berkembang sehingga dengan laporan yang disampaikan masyarakat dapat memahami perkembangan dunia politik di indonesia. Sejauh ini MEDIA INDONESIA sesuai dengan agenda settingnya, sebagai surat kabar yang berperspektif luas yang mempercayai bahwa berita-berita yang dikeluarkan merupakan Current issue yang perlu untuk disoroti karena menjadi hal-hal yang merupakan permasalahan yang sedang menonjol dan menarik untuk diberitakan dan dikonsumsi oleh kalangan masyarakat menengah keatas.

SEPUTAR INDONESIA. Menurut pendapat saya, surat kabar Seputar Indonesia memuat laporan seperti tersebut di atas karena memang surat kabar Seputar Indonesia adalah surat kabar yang bertipe Quality News paper, manganut gaya Balance lay-out (harmonis dan penuh keseimbangan pada semua halaman), dan jika kita melihat pada penjelasan tentang tipologi surat kabar di atas, maka Seputar Indonesia adalah termasuk surat kabar dengan tipologi khalayak aktif di mana para pembaca memiliki keputusan aktif tentang bagaimana menggunakan media, yang dengan kata lain, Seputar Indonesia tidak memberikan berita sembarangan yang penting pembaca mau membeli surat kabarnya tanpa melihat isi dari surat kabar tersebut tapi suatu berita yang dapat memberikan sumber pengetahuan yang baik tanpa memberikan kebebasan pembaca untuk memberikan apresiasi terhadap suatu surat kabar. Selain dari pada itu, jika kita tinjau dari tipologi frames, maka Koran Seputar Indonesia yakin akan menjadi media yang unik. Sajian berita yang bersahabat, karena pemanfaatan bahasa dan image yang ramah (tidak berdarah-darah), aktual dan informatif, karena berita terkini disajikan dengan ringkas dan jelas dengan topik-topik yang hangat. Koran yang menghibur karena didukung oleh desain yang menarik dan tidak membuat kening berkerut. Mampu mengakomodasi Feature Lifestyle dan Infotainment sekuat berita. Sajian berita yang bersifat Non Partisan atau tidak memihak dan dapat dipercaya Koran yang bersifat Young and Friendly Newspaper, tercermin dari penggunaan bahasa yang renyah dan sarat dengan unsur partisipasi publik, dan mampu menyajikan gaya hidup yang meliputi in depth news, lifestyle, sport, dan entertainment., Seputar Indonesia berusaha mengajak pembaca untuk mampu memainkan peran aktif dalam membangun pemahaman/persepsi dan penolakan terhadap media. Dengan bentuk ini, memang terlihat Seputar Indonesia lebih banyak memberikan berita yang secara langsung mengajak pembaca untuk mengolah pikirannya dan memberikan suatu pengetahuan/pengalaman yang lebih berarti sehingga pembaca tidak hanya mendapatkan keuntungan dalam membaca namun juga mendapat keuntungan dari suatu informasi yang memiliki tingkat kebenaran, tingkat moralitas, dan tingkat kesopanan yang baik. Atau dapat juga dikatakan bahwa Seputar Indonesia adalah surat kabar yang memberikan kebebasan pembaca untuk menilai suatu berita berdasarkan isi yang disampaikan bukan berdasarkan judul atau kepentingan suatu individu/kelompok tertentu.

3. Studi Kasus : Pada acara sertijab Kasau (bintang 4), Dispenau mengundang wartawan, untuk meliput kegiatan yang tentu saja menurut kalangan TNI AU sangatpenting namun ternyata jumlah wartawan yang hadir jauh lebih banyak pada acara sertijab Kapolda Jaya ( bintang 2 ). Mengapa hal itu bisa terjadi ? Jelaskan dari sudut pandang pemahaman anda tentang kepentingan wartawan dalam meliput suatu kegiatan.

Jawaban:

Pemilihan berita sangat terkait dengan Agenda Setting yang telah ditentukan oleh Media Massa tersebut, memberikan penilaian tentang berita apa dan bagaimana yang mempunyai nilai jual dan nilai politis dilihat dari segi kepentingan. Dalam teori agenda setting disebutkan bahwa mengapa orang-orang sama-sama menganggap penting suatu berita, dan teori tersebut mempunyai kekuatan memprediksi bahwa jika orang-orang mengekspos pada satu media yang sama, maka mereka akan merasa isu yang sama tersebut penting. Selain itu saat ini Seputar Indonesia sudah dapat digolongkan sebagai Pers Nasional yang berupaya untuk dapat mewadahi segala aspek pemberitaan yang tentunya disusun berdasarkan skala prioritas. Skala prioritas inilah yang hingga sekarang masih menempatkan TNI AU sebagai prioritas yang rendah dibandingkan dengan lembaga kepolisian yang memang lebih banyak berhubungan dengan masyarakat dan lebih dikenal. Mungkin bila beritanya mengenai kecelakaan pesawat TNI AU, skala kita akan meningkat namun justru saat itu terjadi kebijakan untuk tidak mempublikasikannya. Hal ini bisa kita sebutkan sebagai kelayakan berita atau tidak, yang menurut tulisan dari Isnawati Sukendar (Pengelola Buletin DWP KBRI KL) dalam tulisannya berjudul “Belajar Jurnalistik” terdiri atas 13 bagian yaitu:

1. Actual (Timeless). Seberapa besar nilai peristiwa, yang pertama-tama ditentukan oleh kedekatan waktunya, atau aktualitasnya. Semakin actual semakin bernilai. Semakin kadaluarsa semakin tak bernilai. Tapi nilai itu bisa dipertahankan dengan follow up, dengan updating atau aktualisasi. Kadang-kadang bisa juga dengan menyembunyikan when-nya.

2. Conflict. Peristiwa itu mengandung konflik, baik antar orang, antar kelompok, antar golongan maupun antar Negara. Semakin banyak yang terlibat konflik ia akan semakin bernilai berita. Misalnya, perkelahian, protes, demonstrasi, perang, pembunuhan, dsb. Semain besar akibat konflik itu juga semaikn besar nilai beritanya.

3. Competition. Peristiwa itu mengandung kompetisi/persaingan. Misalnya pertandingan olah raga, persaingan bisnis, dan perebutan kursi jabatan

4. Progress. Peristiwa itu menggambarkan adanya kemajuan yang cukup menarik. Semakin luar biasa kemajuan itu semakin menarik. Misalnya, kemajuan bidang pembangunan dan iptek.

5. Suspense/Dramatic. Peristiwa itu menegangkan. Saat-saat yang kritis. Ketegangan menunggu hukuman mati, saat-saat terakhir di dalam kapal yang tenggelam (Titanic) dan sebagainya.

6. Sex. Peristiwa yang menyangkut skandal-skandal seks.

7. Fear. Peristiwa/situasi yang mengisyaratkan adanya ketakutan. Peristiwa yang menakutkan. Misalnya karyawan takut kalau gaji tidak naik, padahal BBM dan listrik naik, takut teror bom, dan sebagainya.

8. Sympathy. Peristiwa yang mengandung suatu sikap simpatik. Misalnya, Presiden atau walikota turun ke tengah penggusuran untuk menenangkan rakyat.

9. Oddity. Peristiwa ganjil, aneh, keluar biasaan. Misalnya, kambing berkaki tujuh, pangeran akan menikahi anak petani miskin. Manusia hanya setinggi 20 cm, manusia menggigit anjing hidup dan lain-lain.

10. Proximity. Memiliki nilai kedekatan dengan tempat tinggal kita/pembaca. Makin dekat makin bernilai. Makin jauh makin tak bernilai.

11. Prominance. Tingkat ketenaran objek berita, tokoh peristiwa pelaku, pelaku
peristiwa atau objek peristiwa. Makin terkenal semakin bernilai beritanya (Name make news).

12. Consequense. Akibat yang ditimbulkan peristiwa itu. Akibat semakin besar dan semakin luas akan semakin bernilai.

13. Human Interest. Punya nilai kemanusiaan tinggi, mengharukan, dan, membanggakan. Hal-hal yang mampu membangkitkan interest-interest kemanusiaan.

Sehingga menurut pendapat saya, banyak hal yang harus diperbaiki dalam kita ingin mencapai efek psikologi massa melalui surat kabar yaitu : Permasalahan anggaran, dimana anggaran yang dimiliki oleh Dispenau sangat terbatas. Hal ini salah satu penyebab mengapa berita yang dimuat di Seputar Indonesia dan poskota menjadi seadanya, tentunya kita sama-sama mengetahui bahwa semua media massa saat ini berorientasikan keuntungan (profit oriented), sehingga apa yang akan mereka tampilkan didalam media massa tersebut selalu dibatasi dengan seberapa besar dana yang dapat dikeluarkan untuk mempublikasikan berita tersebut. Bila dibandingkan dengan Kapolda Jaya tentunya sangat jauh berbeda, kemungkinan besar mereka mampu menyiapkan dana yang lebih besar dari pada Dispenau dan yang pasti bahwa media massa tidak akan melihat pangkat atau jabatan jika sudah dikaitkan dengan masalah biaya. Permasalahan kedua berkaitan dengan kekuasaan dan kewenangan kewilayahan. Kasau tidak memiliki wilayah operasional khusus yang bersinggungan dengan masyarakat sehingga tidak menutup kemungkinan sebagian besar masyarakat banyak yang tidak mengerti tentang keberadaan Kasau, kecuali masyarakat sekitar lingkungan Mabesau dan Halim Perdanakusuma. Dari kondisi tersebut dapat menjadikan alasan bagi wartawan untuk tidak memuat berita sertijab Kasau secara berlebihan karena mereka merasa masyarakat tidak akan terlalu tertarik dengan Informasi tersebut. Dibandingkan dengan Kapolda Jaya meskipun hanya berpangkat bintang 2 namun jika ditinjau dari sisi kewilayahan, mereka memiliki kewenangan dan kekuasaan wilayah yang jauh lebih luas dari pada mabesau yang berlevel bintang empat. Permasalahan ketiga adalah tidak adanya hubungan emosional secara langsung antara masyarakat dan Kasau, demikian juga dengan wartawan. Antara masyarakat dan Kasau secara umum tidak memiliki kepentingan yang saling berkaitan sehingga media massa menganggap sertijab Kasau bukan merupakan suatu yang penting untuk diketahui masyarakat luas karena efek serah terima tersebut tidak akan ada pengaruhnya terhadap kehidupan sosial di lingkungan masyarakat. Berbeda dengan Kapolda Jaya yang secara langsung berada ditengah-tengah masyarakat dan secara langsung baik media massa maupun masyarakat akan mempunyai hubungan emosional yang lebih dekat karena adanya hubungan saling ketergantungan dan kebutuhan. Sehingga setiap adanya pergantian pejabat baru, perlu disosialisasikan kepada masyarakat luas melalui media massa dengan harapan akan memberikan kemudahan pelayanan bagi mereka dan terhadap berbagai kepentingan yang berkaitan dengan keberadaan seorang Kapolda Jaya.

4. Menurut anda, Topik atau issue apa dilingkungan TNI AU yang bisa ”dijual” kepada media sehingga kegiatan TNI AU banyak diliput oleh media? Langkah-langkah apa yang harus dilakukan sehingga TNI AU makin populer ditengah-tengah masyarakat?

Jawaban:

1. Program Latihan. Latihan militer TNI AU yang berskala besar dengan melibatkan seluruh kekuatan alutsista tetap ditunggu oleh masyarakat, seperti : Latihan Gabngan TNI". Latihan "Latgab TNI merupakan sinergi dari totalitas kemapuan matra yang meliputi proses pemikiran (konseptual), kemauan bertempur (moril) dan sarana prasarana (fisik) untuk mendaya gunakan ilmu pengetahuan dalam rangka mencapai tujuan. Oleh karena itu perlu menyatukan tata pikir, bahasa dan menciptakan saling mengenal antar matra. Kondisi ini sangat penting agar Latgab TNI dapat diselenggarakan secara berhasil dan berdayaguna sehingga memiliki kemapuan operasi gabungan yang optimal. Dengan demikian mengisyaratkan,bahwa dalam mandala operasi kombinasi kekuatan 3 (tiga) matra akan merupakan perpaduan kekuatan yang menentukan kemenagan melalui tahapan ” air force leads the way, navy is smoothing the way, and the army conquers the battle”.

2. Luncurkan Acara Militer. Dunia militer rupanya makin mendapat tempat di hati para pembaca media cetak maupun pemirsa televisi. Tentara tidak lagi melulu disorot dari hal-hal yang bersifat miring, namun banyak sisi menarik lain yang bisa digali dari para personel tempur ini. TNI AU bekerjasama dengan Stasiun televisi swasta untuk menayangkan acara baru bertajuk Militer. Program berdurasi 30 menit dan ditanyangkan setiap hari Minggu. di setiap episode Militer akan mengulas segala kemampuan personil dan peralatan senjata yang dimiliki ketiga satuan, TNI AU. Pemirsa akan disuguhi tampilan-tampilan menarik mengenai kemampuan matra militer dalam negeri itu. Sejauh ini, untuk stasiun televisi baru Indosiar yang menayangkan acara Target dan Strategi. Acara itu ditayangkan tiap hari Jumat pukul 15.00 WIB. Sementara untuk majalah ada Commando dan Edisi Koleksi Angkasa yang memuat secara rinci berbagai alutsista militer dan Kepolisian. Kedua majalah ini merupakan by product Majalah Kedirgantaraan Angkasa yang lebih memokuskan diri pada dunia penerbangan (sipil-militerl) serta keantariksaan.

3. PEMBELIAN ENAM SUKHOI SELESAI 2008 Moskow, Sekjen Departemen Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddien mengatakan pembelian enam pesawat Sukhoi dari Rusia dengan dana dari kredit ekspor pemerintah Rusia diharapkan selesai pada 2008. "Saat ini Sukhoi kita baru empat. Diharapkan dengan tambahan lagi, pada 2008 kita punya satu skuadron berikut persenjataan penuh," kata Sjafrie di pesawat kepresidenan saat kembali ke tanah air Sabtu malam. Pembelian pesawat Sukhoi dan sejumlah senjata lain dengan kredit ekspor pemerintah Rusia senilai 1 miliar dolar AS, ditandatangani Sjafrie mewakili Pemerintah RI usai pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin di Istana Kremlin Moskow, Jumat malam. Selain Sukhoi, alat utama sistem senjata (alutsista) yang juga dibeli dengan kredit ekspor itu antara lain 10 helikopter angkut MI17 U-5, dan lima helikopter serbu MI-35-P serta satu paket perlengkapan dan amunisinya untuk TNI AD. Dua unit kapal selam kelas kilo, 20 unit tank amphibi BMP-3F dan dua paket rudal anti kapal untuk TNI AL, serta tiga unit Sukhoi SU-27 SKM, tiga unit Sukhoi SU-30 MK 2 dan empat paket senjata dan suku cadang untuk TNI AU. Selain kesepakatan pembelian senjata, Sjafrie juga menandatangani kerja sama dalam menghormati hak cipta dalam bidang pertahanan, yang merupakan rambu pengaman untuk bidang informasi dan substansi teknik militer. Dijelaskan Sjafrie, meski pemerintah Rusia telah memberikan kredit sebesar 1 miliar dolar AS, jumlah itu belum mencukupi kebutuhan minimal perlengkapan TNI antara 2006 - 2010 yang mencapai 1,3 miliar dolar AS. "Untuk sisanya kami masih mengusahakannya dengan Bappenas dan Depkeu," katanya. Ditambahkan Sjafrie, pihaknya juga telah mencapai kesepakatan kerja sama dengan Rusia untuk meningkatkan profesionalisme prajurit dengan melakukan pengiriman untuk mengikuti pendidikan pelatihan.

4. NI AU Lirik L-159 Buatan Republik Cek. TNI AU kemungkinan akan membeli pesawat latih dan tempur ringan L-159 buatan Aero Vodochody, Republik Cek (Ceko). Pesawat ini nantinya akan digunakan untuk mengganti peran Hawk Mk.53 dan F-5 Tiger II yang habis masa pakainya mulai tahun 2009. Demikian sebagaimana diungkap Tempointeraktif, Jumat (14/7) mengutip keterangan dari Kepala Dinas Aeronautika TNI AU, Marsma TNI Sunaryo HW. Soal rencana pembelian pesawat tempur pengganti Hawk Mk.53 dan F-5, KSAU Jet latih dan tempur ringan, L-159. Foto: airforce-technology.comMarsekal TNI Herman Prayitno sendiri pernah menyinggung bila TNI AU sudah memikirkan guna mencari pengganti kedua pesawat tersebut. KSAU mengharapkan, pembelian pesawat baru bisa direalisasikan pada tahun 2009-2010. L-159 ALCA (Advanced Light Combat Aircraft) merupakan penerus (versi lanjutan) dari L-39 Albatros. Pesawat ini biasa digunakan oleh tim aerobatik arloji ternama, Breitling. Pesawat juga merupakan penyempurnaan dari L-139 Albatros 2000. L-159 punya spesifikasi sebagai pesawat jet latih canggih kecepatan subsonik serta pesawat tempur serang ringan (light attack fighter). L-159 menggunakan avionik digital, terbang perdana tahun 1997, dan dikirimkan ke AU Republik Cek mulai tahun 2002. L-159 ALCA mampu membawa berbagai persenjataan buatan Barat seperti AIM-9 Sidewinder, AGM-65 Maverick, dan Laser Guided Bomb (LGB). Pesawat juga dilengkapi dengan radar warning receiver dan countermeasuresdispensers. Versi multi-role combat adalah pesawat kursi tunggal L-159A,sedangkan yang L-159B adalah versi combat/lead-in trainer (kursi ganda)L-159 punya kecepatan max 936 km/jam, service ceiling 43.300 kaki (13.200 m),Jelajah maksimum 1.570 km dan 2.530 km bila ditambah drop tank.

Rabu, 28 Oktober 2009

SISTEM BERBASIS PENGETAHUAN UNTUK KENAIKAN PANGKAT MILITER TNI AU

PENDAHULUAN
Untuk mendukung kegiatan pembinaan personelTentara Nasional Indonesia Angkatan Udara TNIAU), diperlukan sebuah sistem yang dapat membantupelaksanaan proses kenaikan pangkat personel.Selama ini semua proses untuk menghasilkan daftarUsulan Kenaikan Pangkat (UKP) bagi personelmiliter dilaksanakan secara manual. Divisi Administrasi Personel melakukan pemeriksaan riwayat hidup personel, memeriksa kelengkapan persyaratan kemudian membuat daftar UKP untuk diajukan ke penilaiyang bersangkutan beserta daftar penilaian personel Untuk mempercepat proses di atas, dalam penelitianini dikembangkan sistem berbasis pengetahuan dimana pemeriksaan data dilakukan oleh sistem, sekaligus laporan mengenai analisis kelayakan personel
untuk diajukan dalam daftar UKP. Dalam penelitian ini dipilih Pusdiklat Hanudnas
Surabaya sebagai studi kasus karena struktur organisasinya yang telah dapat mewakili hierarki kepangkatan dan jabatan dalam militer TNI AU padaumumnya.

KEPANGKATAN PRAJURIT TNI AU
Hakikat pangkat adalah keabsahan wewenang dan tanggung jawab dalam hirarki keprajuritan berdasarkan kualifikasi, klasifikasi yang dimiliki Prajurit TNI AU. Kepangkatan bertalian erat dengan penggunaan prajurit dihadapkan pada persyaratan
tertentu dalam penempatan jabatan atau keperluan pendidikan atau penugasan-penugasan lainnya. Pemberian kenaikan pangkat bagi Prajurit TNI AU memperhatikan aspek dasar dan tujuan diberikannya kenaikan pangkat tersebut. Dalam pelaksanaannya, pemberian kenaikan pangkat disesuaikan dengan ketentuan dari macam kenaikan pangkatnya dan saat (kala waktu) yang ditetapkan. Ada 2 macam kenaikan pangkat yaitu:
1) Kenaikan pangkat reguler, yang diberikan pada kala waktu tertentu, kepada prajurit yang telah memenuhi persyaratan.
2) Kenaikan pangkat khusus bersifat anugerah, terdiri atas:
a. Kenaikan Pangkat Medan Tempur (KPMT)
b. Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB)
c. Kenaikan Pangkat Penghargaan (PHH)
Kala waktu kenaikan pangkat pangkat reguler ke kolonel dan pangkat lainnya yang lebih rendah diatur dalam dua kala waktu, yaitu kala waktu 1 April dan 1
Oktober. Persyaratan/ketentuan kenaikan pangkat dimaksudkan untuk mengatur kenaikan pangkat. Ketentuan untuk Kenaikan pangkat reguler adalah sebagai berikut [4]:
a. Kenaikan pangkat reguler

1) Kenaikan Pangkat Perwira
a) Perwira bersangkutan telah menduduki jabatan yang sesuai, baik
struktural maupun fungsional.
b) Penilaian selama enam bulan dalam jabatan adalah baik, tidak melakukan
hal-hal yang dapat menyebabkan ditunda kenaikan pangkat dan tidak mendapat
sanksi administratif maupun mempunyai kasus yang masihdiperhitungkan. Untuk
pati tidak berlaku ketentuan tersebut.
c) Bagi Prajurit Karier (PK) dan Prajurit SukarelaDinas Pendek (PSDP) yang
brsangkutan mempunyai Masa Dinas Dalam Pangkat (MDDP) sekurang-kurangnya dua
tahun, sedang Masa Dinas Perwira (MDP)sekurang-kurangnya:
(1) Letda – Lettu : 3 tahun.
(2) Lettu – Kapten : 6 tahun.
(3) Kapten – Mayor : 11 tahun.
(4) Mayor – Letkol : 15 tahun.
(5) Letkol – Kolonel : 19 tahun.
(6) Kolonel – Pati bintang satu: 23 tahun.
Bagi perwira MDP minimum juga dinilaisumber lulusan perwira AAU, sarjana mudaatau dari bintara.
d) Kenaikan pangkat dalam golongan patitidak menggunakan persyaratan MDDP
dan MDP.
e) Kenaikan pangkat Prajurit CadanganSukarela (PCS) dan Prajurit Cadangan
Wajib (PCW) tidak menggunakan perhitunganMDP dan Masa Dinas Keprajuritan
(MDK) tetapi ditinjau masa jabatan sekurang-kurangnya tiga tahun.
f) Memenuhi kelengkapan administrasi yang diperlukan. Untuk kenaikan ke kolonel
dibutuhkan kelengkapan tambahan sprinlak dan berita acara serah terima jabatan.
g) Memenuhi persyaratan lain yang ditentukansesuai dengan kebutuhan organisasi.

2) Kenaikan Pangkat Bintara dan Tamtama
a) Prajurit yang bersangkutan telah memenuhi persyaratan administrasi
b) Selama enam bulan dalam penilaian terakhir, tidak melakukan hal-hal yang
dapat menyebabkan tertunda kenaikan pangkatnya dan tidak mendapatkan sanksi
administratif maupun kasus yang masih diperhitungkan.
c) Memenuhi MDDP minimum dalam pangkat sebelumnya.
d) Kenaikan pangkat PCS dan PCW tidak menggunakan perhitungan MDK dan MDDP
tetapi ditinjau masa penugasan sekurang-kurangnya tiga tahun.

Selasa, 06 Oktober 2009

Kisah Perjalanan Depo Pemeliharaan 10


Pendahuluan

TNI Angkatan Udara adalah bagian integral dari TNI, merupakan inti kekuatan matra dirgantara nasional dalam rangka menyelenggarakan pertahanan Nasianal di udara. Peran ini mengharuskan TNI Angkatan Udara untuk dapat membentuk dan membina matra udara yang tangguh secara berkecepatan, daya capai, daya tembus, daya gempur dan kekenyalan. Dalam mewujudkan/mengoperasikan kekuatan yang sedemikian itu antara lain diperlukan kesiapan pesawat terbang dengan daya guna yang optimal setiap waktu. Dalam hal ini mutlak diperlukan kemampuan dukungan logistik yang tangguh, termasuk dukungan pemeliharaan baik ditingkat ringan sedang maupun berat.

Koharmatau merupakan Komando Utama TNI Angkatan Udara yang bertugas pokok menyelenggarakan pemeliharaan pesawat terbang TNI Angkatan Udara. Salah unsur Koharmatau yang melaksanakan pemeliharaan tingkat berat pesawat terbang bersayap tetap dan bersayap putar, pemeliharaan komponen, kalibrasi alat ukur presisi, pemeriksaan Non Destructive Inspection (NDI), dan produksi materiil. Dalam pelaksanaan tugas pokok Depohar 10 membawahi 5 Satuan Pemeliharaan (Sathar) yang meliputi Sathar 11, Sathar 12, Sathar 13 Sathar 15 dan Sathar 16. Disamping tugas pokok tersebut, Depohar 10 menyelenggarakan fungsi-fungsi kegiatan sebagai berikut :

a. Melaksanakan pemeliharaan tingkat berat pesawat angkut, latih dan helikopter tepat waktu.

b. Melaksanakan pemeliharaan komponen pesawat terbang dan kegiatan fabrikasi untuk mendukung kesiapan pesawat di lanud-lanud maupun pesawat dalam pemeliharaannya.

c. Menyelenggarakan bantuan pemeliharan lapangan terhadap pesawat TNI Angkatan Udara untuk mendukung kesiapan operasi di Skadron-Skadron dalam jajaran Koopsau I, Koopsau II dan Kodikau.

d. Melaksanakan pemeliharaan tingkat ringan maupun sedang terhadap peralatan-peralatan dan fasilitas pemeliharaan sesuai fungsinya.


e. Melaksanakan kalibrasi terhadap peralatan standard untuk mendukung penyelenggaraan pemeliharaan pesawat terbang, yang terdapat di Satker-satker, Lanud-lanud dalam jajaran TNI Angkatan Udara.

Fasilitas dan sarana produksi/peralatan kerja meliputi bangunan, hanggar, bengkel dan gudang serta peralatan permesinan sebagian masih memakai peninggalan pemerintahan Hindia Belanda dan Jepang ditambah denga peralatan baru beserta penambahan bangunan lainnya. Dengan sarana dan fasilitas yang ada sekarang Depohar 10 tidak pernah absen dalan operasi udara dalam rangka pertahanan keamana maupun tugas- tugas di bidang sosial politik. Keberhasilan dalam pelaksanaan tugas ini adalah atas dasar keuletan dan sikap mental yang dimiliki oleh seluruh warga Depohar 10 dalam mengemban tugasnya.

Maksud dari penulisan sejarah ini adalah untuk memberikan gambaran tentang peranan Depohar 10 berikut pertumbuhan dan perkembangannya untuk diketahui oleh seluruh anggota terutama generasi muda yang kelak sebagai pelaku peningkatan kemampuan untuk dijadikan titik tolak mempersiapkan diri menerima tugas yang dibebankan oleh TNI Angkatan Udara khususnya dan TNI pada umumnya.

Agar sejarah ini dapat mudah diikuti dan diperoleh gambaran tentang pertumbuhandan perkembangn Depohar 10, serta Darma Bakti yang telah dipersembahkan kepada Nusa dan Bangsa,sejak diserahkan kepada TNI Angkatan Udara ( AURIS ) pada tanggal 27 Desember 1949. Sejarah ini disusun berdasarkan periode waktu, dimana setiap periode merupakan periode yang mencerminkan penggantian nama kesatuaan dan kegiatan-kegiatan yang menonjol. Selain itu untuk mengenal arti peninggalan benda sejarah yang sampai saat ini masih digunakan untuk kegiata pemeliharaan pesawat terbang akan disampaikan sekilas periode waktu sebelum kesatuan ini diserahkan kepada AURIS, yaitu periode waktu ketika perjuangan fisik.

Sekilas Periode Waktu Sebelum Diserahkan Kepada Auris

Periode Tahun 1926-1942 (”LUCHVAART AFDELING”)

Kesatuan didirikan oleh pemerintah penjajahan Hindia Belanda, kira-kira pada tahun 1926-1927 jadi sebelum perang dunia ke-II, tugas pokok dari kesatuan ini adalah melaksanakan pemeliharaan tingkat berat pesawat terbang dari angkatan perang pemerintahan Hindia Belanda. Adapun pesawat terbang tersebut, adalah tipe “Gleen L. Martin”. Bewster Buffalo” dan Lockheed Loader Star”. Kesatuan ini diberi nama “Luchvaart Afdeling” dan disingkat dengan “LA”.

Periode Tahun 1942/1945 (“Yosida Butai”)

Setelah pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang pada tahun 1942, maka kesatuan ini digunakan untuk melaksanakan pemeliharaan tingkat berat pesawat terbang, beserta overhaul komponen milik angkatan perang kerajaan Jepang. Kesatuan ini diberi nama “Yosida Butai”. Adapun pesawat terbang yang dipelihara pada waktu itu adalah tipe “Bomber Nakayama”, “Mitzubisi”, “Nisikoren”, “Guntai”, “Hayakusa”,.dan “Cukiyu”. Kesatuan ini hanya melayani pesawat-pesawat terbang yang dipelihara pada waktu ini adalah tipe “Bomber Nakayama”, “Mitzubisi”, “Nisikoren”, “Guntai”, “Hayakusa”,.dan “Cukiyu”. Kesatuan ini hanya melayani pesawat-pesawat terbang yang beroperasi di front barat, yaitu Birma, Singapura, Cina Selatan, dan sekitarnya.

Periode Tahun 1945-1949 (“Eerst Vliegtuig Reparatie Basis”)

Pada waktu perjuangan fisik kesatuan ini dikuasa oleh tentara pendukung sekutu khususnya tentara Belanda. Oleh Belanda kesatuan ini dinamakan “Eerst Vliegtuig Reparatie Basis” yang disingkat IEVRB. Kesatuan ini melaksanakan perawatan tingkat berat pesawat terbang tipe : B-25 “Mitchell”, P-51 “Mustang”. A-169 ”Harvard”, L-4J ”Piper Cup”, C-47”Dacota” dan auster.
Tenaga-tenaga mekanik dari ”IEVRB” sebagian besar adalah anggota ”ML”. Anggota ”Yosida Butai” hampir semuanya keluar kota Bandung untuk ikut bergerilya dengan kesatuan lain. Beberapa tenaga ahli/inti melaksanakan tugasnya memperbaiki pesawat-pesawat terbang peninggalan tentara Jepang yang belum dikuasai oleh pihak Belanda seperti pangkalan udara Cibaureum Tasikmalaya, Maguo, Yogyakarta, Maospati, Madiun. Pesawat terbang yang berhasil dengan fasilitas, peralatan yang sangat terbatas dapat diterbangkan antara lain tipe : ”Nishikoren, Hayabusha, serta Cureng” yang pernah digunakan menyerang kedudukan tentara Belanda di Ambarawa dan Salatiga, Guntai yang dipakai untuk membom tentara Belanda di Semarang.

Periode tahun 1949/1957 (Asisten I Direktur Perawatan Teknik I)

Setelah menyerah ke daulatan RI pada tanggal 27 Desember 1949, maka kesatuan ini diserahkan kepada AURIS dari ML, dengan tugas pokok melaksanakan pemeliharaan tingkat berat pesawat terbang/ komponen milik AURIS. Sesuai dengan keputusan Menpangau Nomor 96/50/Pen/53 tanggal 31 Desember 1953 dan terhitung pada tanggal 1 Januari 1950, dinamakan Asisten I Direktur Perawatan Teknik I, sebagai pejabat Komandan ditunjuk Letnan Udara I Nurtanio Pringgo Adi Suryo beliau menjabat sampai dengan pamgkat Mayor Udara dan diganti pada tanggal 1 Juni 1957 oleh Kapten Udara A. Patah yang menjabat sampai dengan 1 April 1958, Mayor Udara Nurtanio setelah tidak aktif di kesatuan ini mendirikan ”Depot Pembuatan Penelitian dan Pengembangan” yang pada tahun 1960 dengan keputusan menpangau Nomor 480 Depot ini diresmikan menjadi lembaga yang diberi nama ”Lembaga Persiapan Industri Penerbangan” dan disingkat menjadi ”LAPIP”. Pangkat terakhir beliau adalah laksamana Muda Anumerta. Gugur pada bulan Maret 1966 bersama-sama komodor anumerta Supadio pada waktu bertugas melaksanakan pengujian terbang/tes Flight pesawat terbang bukan produksi LAPIP.
Personel Dari Asisten I Direktur Perawatan Teknik I, sebagian besar adalah bekas anggota Yosida Butai yang kembali dari daerah gerilya, lulusan sekolah teknik udara Maospati Madiun dan sebagian lagi bekas anggota ML/Belanda.

Periode tahun 1957-1962 (”Depot Perawatan Teknik Udara 1”)

Berdasarka surat keputusan menpagau nomer 73 tahun 1957 terhitung mulai tanggal 1 April 1957, kesatuan ini di ganti nama menjadi ” Depot Perawatan Teknik Udara 1 ”. Dan memiliki tugas memelihara :
a. Pesawat Pembom tipe B -25 Michel dan B-26 Invander
b. Pesawat baru taktis tipe P-51 Mustang
c. Pesawt angkut tipe C-47 Dakota
d. Pesawat SAR/Intai tipe PBY-5A, UF -1 Albatros, Helicopter dan Otter.

Penggantian pimpinan pada perode ini Kapten Udara A. Patah diganti oleh Kapten Udara Ir Suratman Darma Prawira. Kemudian pada tanggal 1 April 1958 Kapten Udara Ir Suratman Darma Prawira, diganti oleh Mayor Udara GF Mambo.

Periode tahun 1962-1965 ( ” Depot Teknik 001”)

Pada tanggal 17 Juli 1962” Depot Perawatan Teknik Udara 1 diganti dengan nama ” Depot Teknik 001”, sesuai dengan surat keputusan menpagau nomor 131 tahun 1962. Dalam periode ini terjadi penggantian pimpinan yaitu Mayor Udara GF Mambo diganti oleh Mayor Udara Sumartoyo.

Periode tahun 1965-1966 ( ” Depot Teknik 011”)

Berdasarkan surat keputusan menpagau nomor 17 tahun 1965 Depot Teknik 001 menjadi Depot Teknik 011. Pengganti pimpinan dalam periode ini adalah Mayor Udara Sumartoyo diganti oleh Mayor Udara Ir . Sukendro Wardoyo dapa tanggal 1 April 1965.

Periode tahun 1966-1970 ( ” Wing Logistik 010”)

Pada tanggal 2 Mei 1966 dengan berdasarkan kepada keputusan menpagau nomor 45 tahun 1966 depo teknik 011” diganti namanya menjadi ” Wing Logistik 010”, perubahan nama ini diikuti juga dengan perubahan struktuk organisasinya, baik esselon staff maupun pelaksana . Esselon staff organisasi Wing Logisti 010 adalah :
a. Skadron Teknik 011 merupakan pelaksana kegiatan pemeliharaan tingkat berat pesawat terbang .
b. Skadron Teknik 012 pelaksana kegiatan untuk mendukung pemeliharaan pesawat terbang di Skadron Teknik 011 dan pemeliharaan komponen di Skadron Teknik 012
c. Skadron Teknik 013 merupakan pelaksana kegiatan pemeliharaan komponen pesawat terbang.
d. Skadron Materiil 014 sebelumnya merupakan kesatuan berdiri sendiri dengan nama Depo Materiil 061, merupakan pelaksana kegiatan penerimaan , penyimpanan, pengeluaran materiil pesawat terbang.
e. Gudang pemeliharaan pusat merupakan pelaksana pergudangan materiil pesawat terbang untuk mendukung pemeliharaan di skatek-skatek lingkungan Wing Logistik 010.

Penggantian pimpinan dalam periode ini adalah Mayor udara Ir. Sukendro Wardono diganti oleh Mayor Udara Djukahdi A. pada awal tahun1968.
Perode Tahun 1970-1978 ( ” Depot Logistik 010”)

Pada tanggal 1 juli 1970 sesuai dengan surat keputusan menpangau nomor 57 tahun 1970 ” Wing Logistik 010”, namanya diganti menjadi ”Depot Logistik 010”. Dengan adanya perubahan ini, Struktur organisasi juga mengalami perubahan, baik ditingkat markas maupun kesatuan pelaksananya. Pada periode ini peningkatan kemampuan Depot Logistik 010 adalah :
a. Pada tahun 1972 kesatuan pemeliharaan 15, memiliki kemapuan pemeliharaan tingkat berat pesawat terbang C-130 Hercules.
b. Pada tahun 1976 kesatuan pemeliharaan 16 memiliki kemampuan pemeliharaan tingkat berat pesawat terbang Helicopter jenis S-58T Twin Pack yang kemudian berkembang sehingga mampu memelihara pesawat jenis puma SA 330, Huges dan Solloy.

Struktur organisasi Depot Logisti 010 garis besarnya adalah sebagai berikut :

a. Eselon Staff

1. Staff Operasi diganti menjadi Dinas Pemeliharaan
2. Staff Pembinaan di ganti menjadi Dinas Pembinaan
3. Inspeksi dari staff khusus ditingkat menjadi Dinas Inspeksi
4. Seksi materiil disingkat menjadi dinas pembekalan
5. Staff khusus disederhanakan menjadi sekretariat umum dan detasemen markas.

b. Eselon Pelaksana

1. Skadron Teknik diganti menjadi kesatuan pemeliharaan tingkat Sathar.
2. Skadron Materiil diganti menjadi Kesatuan pembekalan disingkat Satkal.
3. Gudang RPC ditingkatkan menjadi Seksi pusat proses perbaikan pesawat terbang, disingkat P3KP.
4. Pemeriksaan bahan dan kalibrasi ditingkatkan menjadi seksi inspeksi materiil disingkat Siinsmat.

Penggantiaan pimpinna dalam periode ini adalah Letkol TPT Djukahdi A. Rukmana. Diganti oleh Kolonel TPT Subagyo. Pada tahun 1977 Kolonel TPT Subagyo diganti oleh Kolonel TPT Sutjiptadi.

Peride tahun 1978-1985 ( ” Wing Matriil 10”)

Dengan keputusan Kasau nomor Kep/19/V/1978 terhitung mulai 23 Mei 1978 ” Depot Logistik 010”, diganti nama menjadi ” Wing Matriil 10”.
Peningkatan kemampuan pada periode ini adalah Bengkel Propeller, Instrumen dan Hydraulic dapat melaksanakan overhaul komponen propeller, instrument dan hydraulik berbagai tipe pesawat terbang. Struktur organisasi sedikit menaglami perubahan yaitu :

a. Sraff khusus ditambah urusan pengadaan disingkat URADA dan pemegang Kas disingkat Pekas.
b. Kesatuan pemeliharaan di danti namanya menjadi Skadron Teknik Disaingkat Skatek.
c. Kesatuan pembekalan diganti namanya menjadi Skadron Materiil di singkat Skamat.
d. Satff Skadron Teknik ditambah urusan matreiil disingkat Urmat.

Penggantian pimpinan dalam periode ini alahan Kolonel PTP Sutjiptadi diganti oleh Letkol PTP Soemarno pada tahun 1979. Selanjutnya Kolonel PTP Soemarno diganti oleh Kolonel I. M Sugeng pada tanggal 25 Mei 1984.
Tugas pokok dan fungsi Wing Materiil 10 adalah menyelenggarakan pemeliharaan tingkat berat pesawat terbang dan Overhaul komponen-komponennya, bak yang bersayap tetap (FixWing) maupun bersayap Putar (rotari Wing) guna mendukung operasi udara TNI Angkatan Udara, sedangkan fungsinya adalah sebagai berikut :
a. Melaksanakan pemeliharaan tingkat berat pesawat terbang bersayap tetap dan putar.
b. Modifikasi dan perbaikan tingkat pesawat terbang
c. ”Major Overhaul”dan ”Repair” komponen pesawat terbang.
d. Memberikan bantuan tenaga spesialis/ teknis untuk pemeliharaan pesawat terbang di luar wing materiil 10
e. Kalibrasi alat-alat ukur presisi yang digunakan dilingkungan TNI AU dan pemeriksaan spare part dengan sistem NDI
f. Menerima, menyimpan dan menyalurkan meteriil pesawat terbang untuk menunjang kegiatan pemeliharaan pesawat terbang.

Periode Tahun 1985-1998 (“Depo Pemeliharaan Pesawat Terbang 10”)

Berdasarkan Surat Keputusan Kasau Nomor : Skep/01/III/1985 terhitung tanggal 11 Maret 1985 “Wing Materiil 10” menjadi “ Depo Pemeliharaan Pesawat Terbang 10” disingkat “Depopesbang 10”. Struktur organisasi mengalami perubahan di antaranya :
a. Komandan Skadron Teknik diganti menjadi Kepala Bengkel Pemeliharaan di singkat Kabenghar .
b. Komandan Detasemen Markas diganti menjadi Kepala Tata Usaha dan Urusan Dalam disingkat Kataud.
c. Gudang pemeliharaan pusat SITE 4 GPP 14 menjadi Titik Bekal disingkat TB berdasarkan Skep Dankoharmatau Nomor : Skep/11/VIII/1986 tanggal 6 Agustus 1986 sedangkan GPP1 dibawah pembekalan Materiil Pusat.
d. Pusat Proses Perbaikan Komponen Pesawat Terbang (P3KP) menjadi Pusat Proses Perbaikan (P-3).
e. Dinas Insfeksi menjadi Pengendalian Kualitas (Dalkual).
f. Dinas Pembekalan (Diskal) ditiadakan dan dibentuk menjadi Seksi Administrasi Materiil (Siminmat).
g. Bengkel Trasmisi Benghar 13 dipindahkan ke Benghar 16.
h. Bengkel Radio dari Bengkel 13 diserahkan ke Bengkel 11.
i.
Kegiatan pemeliharaan pesawat terbang tetap melanjutkan tugas pokok dan fungsi yang lama. Dengan adanya perubahan GPP 14 menjadi GPP I dibawah naungan Bekmatpus, maka tugas menerima dan menyimpan materiil pesawat terbang tidak lagi dibawah Depopesbang 10.

Penggantian pimpinan dalam periode ini adalah Kolonel TPT I.M. Sugeng diganti oleh Letkol Tek Achmadi pada tanggal 28 Agustus 1986, berdasarkan Skep Kasau Nomor: Skep/32-PKS/VIII/1986 tanggal 12 Agustus 1986. kemidian pada tahun 1989 berdasarkan Skep Kasau Nomor : Skep/09-PKS/III/1989 Kolonel Tek Achmadi diganti oleh Letkol Tek J. Kartif hartoyo. Pada tahun 1991 terjadi penggantian pimpinan berdasarkan Skep Kasau Nomor: Skep/20-PKS/IX/1991 Kolonel Tek J. Kartif hartoyo diganti oleh Letkol Tek M. Kuswardhono. Selanjutnya berdasarkan surat Dankoharmatau Nomor : B/271-07/05/1/Dan tanggal 24 Juli 1992, terdapat penyempurnaan struktur organisasi Depopesbang 10 antara lain TB menjadi TB Depo 10/GPD dengan dibantu TB Benghar-benghar. Pada tahun 1994 Kolonel Tek M. Kuswardhono diganti oleh Kolonel Tek Suharsono kemudian pada tahun 1996 Kolonel Suharsono diganti oleh Letkol Sudjarwo, SE.SIP.

Periode Tahun 1998-Sekarang (”Depo Pemeliharaan 10”)

Berdasarkan surat keputusan Kasau Nomor : Kep/4/II/1998 tanggal 3 Februari 1998 tentang pokok-pokok organisasi dan prosedur kotama fungsional TNI Angkatan Udara dan menyangkut perubahan nama ”Depo Pemeliharaan Pesawat Terbang 10” menjadi ”Depo Pemeliharaan 10” dan disingkat ”Depohar 10”.
Struktur organisasi mengalami sedikit perubahan diantaranya

a. Kepala bengkel Pemeliharaan di ganti menjadi Komandan Satuan Pemeliharaan disingkat Dansathar.
b. Kepala Pengendalian Kualitas disingkat Kadis Dalkual
c. Seksi Diklat dihilangkan dan digabung ke Binpersman, kemudian Binpersman diganti menjadi Seksi Binpers disingkat Sibinpers membawahi Subsi Minpers dan Subsi Diklat.

Penggantian pimpinan pada periode ini adalah Kolonel Tek Sudjarwo, SE.SIP, diganti oleh Letkol Tek Bob S. Trisno pada tahun 1999, selanjutnya pada tahu 2000 Kolonel Tek Bob S. Trisno diganti oleh Kolonel Tek Ferdinan A.M. kemudian pada tanggal 23 April 2002 Kolonel Tek Ferdinan A.M. diganti oleh Kolonel Tek Mulyono. Kemudian pada tahun 2003-2005 dijabat oleh Kolonel Tek Karibiyama, periode tahun 2005-2008 dijabat Kolonel Tek Suharto, 2008-Sekarang dijabat Kolonel Tek Taufik Suhargo Arif.

Senin, 28 September 2009

Depo Manitenance no 10



The Power Full Air Craft"s Maintenance

Depo Pemeliharaan 10 yang berlokasi di Lanud Husein Sastranegara Bandung adalah sebagai sebagai ”Aircraft Maintenance Organization” dengan DGCA Approval No. 145/21300, yang memiliki kemampuan :
a. Pemeliharaan Komponen Pesawat Terbang.
b. Fabrikasi.
c. Pemeriksaan Material dengan cara Non Destructive Inspection (NDI).

Audio Visual Advertisement

The audio visual advertisement offers advertisers effectives opportunities to present specific commercial messages. Maximum effectiveness can be obtained from utilizing the particular strengths of the medium. Television provides timelines to an even greater extent than other medium. This can be of particular value in the case of very sudden changes condition. When decide to choose television as advertisement medium, advertisers must consider and compare about the benefits and weakness of television than the other medium. Besides advertisers must think about the purpose of their advertisements and coverage of the medium,

The Benefits of Audio Visual Advertisements

• The fastest growing medium of advertisements
Television as audio visual advertisement has growth rapidly. Television gives big influence to the audience. Since it is recognized for the first time as advertisement medium television technology develop fastly. Ownership of television sets is growing each year. Now almost all of people in this country have television and watch television everyday. Besides, the television programs more various.


• It appeals to both sights and sound
Television transmitted directly into the home, it combines the effectiveness of pretorial presentation with the sounds and pictures move. Television has broad coverage because most home have TV receiving sets, so the advertisers are interested in more specific information. Many of these sets are color and offer the retailer a vehicle in which both sight and sound that can be used to create a significant perceptual and cognitive effect on the consumer.

• Having Nation-wide Network
Television is the fastest growing medium. The network of television, which provides simultaneous coverage of nation-wide market. National spot television, which involves national advertiser’s selecting individual stations to reach individual markets and local televisions, the use of local stations by retailers. The Network which enables the advertisers to reach the national market through televisions, can change a sufficiently high rate to the advertisers to permit the hiring of the best of talent and the production of expensive program, which would be impossible for the individual station. Since the cost of such expensive program and talent is spread over the entire national market, the cost to the advertisers of reaching thousands viewers can still be reasonable when it uses to the network setup.

The Weakness of Audio Visual Advertisements

• More Expensive in Cost
The cost of television advertising is very high, eliminating this form as a medium for many smaller advertisers because the advertisers must take the responsibility in the case of sponsored programs, of supplying the program to attract the desire audience and also the competition is high for the viewer’s attention. Besides, the cost of using television includes not only time costs but also talent and program production costs, that is not charged by the other medium.

• The Limited Number of Stations Good program and Time
Further expansion of the television broadcast facilities largely depends on the number of new stations that will be added in UHF range, where most of the unassigned channels are available. Most of these early stations were located in densely populated metropolitan markets. There was needed needed an interesting TV program to attract the audience and make them keep watching the TV when the advertisement is presented. People cannot watch many TV programs at the same time, and the habit to use time.

• No Longer Presentation

The advertising message lasts only as long as it is being presented on the receiving screen. If the prospect is not viewing or listening in the exact moment the advertisement is presented. , the message is gone forever and wasted as far as that prospect is concerned. It is impossible to refer back to an advertisement offer it has been presented, however many advertisers are using this medium as one part of their advertising and sales promotion campaign. The viewer may be a break and leave the room or may be exposed to several ads. There was a high competition to get viewer’s attention.

The Coverage of Audio-Visual Advertisement

Television is highly flexible territorially, up to the limit of the number of markets served and combined market coverage on a simultaneous basis. It provides local market selectivity. A national advertisers can use spot TV for seasonal promotion , for saturation campaigns, for bolstering weak markets, for launching new products, for localizing appeals, for pretesting messages, and for complementing network advertising.

Measuring TV Audience

There are big numbers of television audience. Obviously, television viewing is influenced by time of day changes in the hour activities of various members of the family influence the number of viewer per home and the composition of the audience by age and sex. School, job, and household routines are reflected in the TV audience. By TV, advertisers can get the opportunities to reach selective audience through choice of programs and time broadcast.
The Outline

Objectives: Audio-Visual Advertisement
1.The benefit of Audio Visual Advertisement
- The fastest-growing medium of advertisement
- It appeal to both sights and sounds
- Having nation-wide network
2. The weakness of Audio Visual advertisements
- More expensive in cost
- The limited number of station, good program and time
- No longer presentation
3. The coverage of audio visual advertisement
4. Measuring TV audience
- Reference
• Retailing
-Patrick Dunne
-Robert Lusch
-Myron Gable
-Randall Gebhart
Published in 1992
South Western Publishing Co. Cincinnati-Ohio, USA
• Salesmanship Principles and Methods
- Carlton A. Pederson
- Milburn D. Wright
Fourth Edition, 1966
Richard D. Irwin Inc. Homewood-Illinois, USA
• Advertising Theory and Practice
- C.H Sandage
- Vernon Fryburger
Sixth Edition, 1963
Richard D. Irvin Inc. Homewood-Illinois, USA

Kamis, 24 September 2009

Federalisme dan Demokrasi

Perebutan kursi presiden pada tahun 2000 merupakan salah satu pemilihan paling ketat dan membingungkan dalam sejarah Amerika. Perlu waktu sebulan setelah pemilihan memberikan suara untuk mengetahui cara pasti bahwa calon dari partai repubik George W Bush berhak meyandang jabatan presiden ke -43. Untuk sementara waktu sebelumnya, dunia menyaksikan saat pertarungan perebutan suara di Florida berulang kali memantul dari pengadilan lokal ke negara bagian ke federal dan kembali lagi, sampai akhirnya keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat menyelesaikan persoalan ini, Yang membingungkan bagi banyak pengamat asing adalah bagaimana standar pemungutan suara bisa begitu bervariasi dari satu tempat ke tempat lain atau bagaimana pejabat lokal bisa memainkan peran penting dalam pemilihan nasional Warga Amerika pun bisa jadi terkejut dengan perbedaan-perbedaan dalam prosedure pengambilan suara dari negara bagian satu ke yang lainnya, namun kondisi yang saling mempengaruhi dari pemerintahan lokal, negara bagian dan national tentu saja tidak tampak ganjil. Rakyat awam di Amerika Serikat tadak mungkin tidak berurusan dengan hukum-hukum atau tindakan-tindakan dari ketiga tingkatan pemerintahan ini dalam keseharian mereka. Pembagian wilayah pengaturan lalu lintas, sanitasi, administrasi pendidikan, perbaikan jalan, dan ratusan elayanan lain semuanya utamanya diatur oleh pejabat-pejabat lokal, yang bertindak di bawah wewenang yang diberikan negara bagian lebih banyak mengontrol kebijakan pendididkan, pengadilan kriminal, peraturan bisnis dan profesi, kesehatan publik, di antara pelbagai areapenting lain. Dan langkah-langkah pemerintahan nasional berkisar mulai pertahanan dan urusan luar negeri sampai kebijakan keuaangan dan ekonomi adalah menu utama di surat kabar harisn di ana-mana karena dampaknya yang luas.

Kamis, 17 September 2009

My Wife

;

PENELUSUSRAN